Sebenarnya, aku lebih menyukai anime daripada dorama. Bukan apa-apa, biasanya anime lebih banyak cerita sejarahnya dan lebih kompleks dari dorama yang biasanya cuma sepuluh episode. Tapi, sepuluh episode dari Change yang dibintangi Kimura Takuya SMAP (sebenarnya SMAP-nya ga perlu disebut, ga penting) berbeda.
Menjelang 2009, sepertinya nonton dorama ini juga bisa jadi pendidikan politik yang bagus. Terutama buat para politisi dan calon politisi.
Ceritanya berawal dari mundurnya Perdana Menteri Jepang karena skandal. Untuk menaikkan popularitas partai pemerintah, elit partai mencari seseorang yang bisa populer untuk dijadikan boneka sementara. Dipilihlah seorang guru yang mencintai anak-anak dan gemar melihat bintang (well, hobi kami sama!). Melajulah ia sebagai anggota parlemen, kemudian ketua partai, dan akhirnya menjadi Perdana Menteri selama tiga bulan. Dengan bekal politik yang nol, ia hanya membawa satu keyakinan:
"Aku akan melihat dengan mata yang sama dengan mata kalian
Aku akan mendengar dengan telinga yang sama dengan telinga kalian
Aku akan bekerja dengan tangan yang sama dengan tangan kalian yang berkeringat,
untuk menunjuk jalan yang harus diambil negeri ini...
Untuk masa depan yang penuh harapan"
Ia kemudian masuk ke dalam dunia politik yang penuh intrik. Yang menarik, ia tidak belajar dari politisi-politisi lama yang berpengalaman tentang "bagaimana berpolitik". Ia yang mengajari mereka "berpolitik". Mengingatkan bahwa mereka berpolitik untuk kemaslahatan rakyat banyak. Mengingatkan mereka dengan tindakan nyata bahwa politik itu harus mendengarkan hati. Ia menggunakan sepenuh waktunya untuk rakyat dan mengambil keputusan-keputusan tanpa mempedulikan popularitas partai. Akibatnya, ia justru semakin dicintai.
Tindakan-tindakannya yang memprioritaskan rakyat daripada partai atau karir politik dianggap mengancam kedudukan elit partai. Dengan plot yang kejam, dirancanglah "pembunuhan politik" terhadap Asakura Keita, sang Perdana Menteri. Tapi, yang dipikirkannya tetaplah kepentingan rakyat. Ia tidak peduli karir politiknya tamat. Namun, ia juga tidak menyerah dan kalah. Ia tidak mundur dan membiarkan politik dikuasai para politisi busuk.
Semoga para politisi baik kita bisa seperti itu. Tidak belajar dari politisi busuk yang berpengalaman tapi mengajari mereka tentang kejujuran. Tidak belajar bermewah-mewah dengan dalih Utsman (semoga Utsman bin Affan RA terbebas dari tuduhan itu), tapi hidup sederhana sebagaimana Rasulullah mengajarkan.
Satu kutipan menarik dari film ini:
"Saat maju untuk berada di kursi ini dengan berpolitik, kita terpanggil karena idealisme kita
tentang masyarakat yang lebih baik...
Setelah berpolitik, kadang kita lupa untuk apa kita duduk di kursi ini..."
Semoga para pemimpin kita tidak lupa. Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!
(Sebenarnya ini masuk di review ya...hehehe. Saya merekomendasikan dorama ini untuk ditonton. Kalo perlu temen-temen di kampus bikin bedah dorama-nya.)