shofwan's posts with tag: berita

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryWorld-Class? Ok. Merakyat? Wajib!May 11, '08 11:19 AM
for everyone

Belakangan, isu soal biaya pendidikan tinggi -khususnya UI- rame lagi. Jadi pengen ngumpulin bahan-bahan terkait lagi. Untuk awalan, browsing beberapa berita terkait ketika masih di MWA dulu...(kalo berkas-berkas kan dulu pernah di-posting di sini). Sekedar upaya untuk mengingat dan mengingatkan...

Seminar Peningkatan Kualitas UI menuju World Class University

http://www.engineering-center.net/?q=node/2656

 

Seminar yang diselenggarakan oleh BEM UI ini berlangsung di Aula Setyaninggrum Pusgiwa UI pada tanggal 20 Febuari 2007. Seminar ini dihadiri oleh Dr. H. Poernomo Prawiro sebagai Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI, Shofwan Al-Banna Choiruzzad sebagai Mahasiswa Berprestasi tahun 2006 dan sebagai perwakilan mahasiswa di MWA, serta perwakilan mahasiswa dari seluruh fakultas-fakultas yang ada di UI.

 

Dalam rangka pemilihan rektor UI bulan Agustus 2007 nanti, BEM UI menyelenggarakan seminar dengan tema “Peningkatan Kualitas UI Menuju World Class University”. Tujuan diselenggarakanya acara ini adalah untuk menyatukan aspirasi seluruh mahasiswa UI dan untuk mendapatkan solusi agar UI bisa menjadi universitas yang bisa bersaing di dunia internasional. Kepala Departemen Kesejahteraan Mahasiswa Rimas Kautsar mengatakan bahwa hasil dari seminar ini kemudian akan direkomendasikan sebagai masukkan bagi MWA dan rektor pada ajang pemilihan rektor UI nanti. Diharapkan untuk kedepan, rektor yang baru akan mampu memimpin UI dengan baik. “UI harus bisa mencari sosok yang baik”, kata Rimas.

 

Acara dibuka dengan pemaparan dari Shofwan Al-Banna Choiruzzad sebagai perwakilan mahasiswa di MWA. Dalam makalahnya yang berjudul “ Menatap ke Langit Tetap Berpijak di Bumi” Shofwan mengatakan bahwa mahasiswa sebagai salah satu stakeholder utama dengan kuantitas yang terbanyak harus bisa menjadi motor penggerak terwjudnya Universitas Indonesia sebagai universitas yang Berkelas Dunia. Selain itu mahasiswa juga harus bisa menggiatkan berbagai kegiatan kemahasiswaan yang sesuai.

 

Shofwan menjelaskan bahwa keinginan UI untuk menjadi World Class University harus dibarengi dengan adanya kesadaran untuk tetap menjadi bagian dari upaya mencerdaskan bangsa, termasuk untuk mereka yang tidak berada dalam kalangan ekonomi menengah keatas. Untuk itu, UI harus memperhatikan tiga aspek yang meliputi Mind, Heart, dan Spirit.

 

Dalam aspek Mind (pendidikan dan Pengajaran) Shofwan memaparkannya dalam lima point. Pertama, UI harus tetap dapat diakses oleh semua kalangan rakyat Indonesia. Untuk itu harus ada jaminan bahwa orang-orang miskin pun mampu berkuliah di UI. Kedua, alternatif pendanaan universitas. Menurut Shofwan, Ada beberapa alternatif yang bisa di coba, yaitu maksimalisasi ventura, memadukan kurikulum dengan pembiayaan kuliah, intensifikasi dan ekstensifikasi riset dan penelitian, serta pemberdayaan kewirausahaan mahasiswa. Ketiga, meninjau ulang kebijakan biaya pendidikan. Dimana transparansi anggaran universitas sangat diperlukan untuk mengawal efektifitas UI. Keempat, masalah integrasi UI. Menurut Shofwan, Selain kebijakan di level UI yang tidak selalu efektif, juga terdapat gap-gap antara fakultas-fakultas yang “basah” dan yang “kering”. Kelima, mengenai kesejahteraan karyawan baik dari dosen, dan elemen karyawan lain yang bekerja di UI.

 

Dalam pengembangan ilmu pengetahuan (Heart) Shofwan menjelaskan bahwa walaupun UI sudah mengikrarkan dirinya menjadi Universitas riset, namun dukungan terhadap aktivitas riset dan penelitian masih sangat minim. Tidak hanya itu, dukungan untuk penelitian dari dosen dan mahasiswa pun sangat kurang. Berkaitan dengan itu, maka mahasiswa mengajukan beberapa usulan, pertama adalah adanaya skema Research Grand rutin untuk mahasiswa yang dikompetisikan, karena budaya riset harus dibangun sejak dini. Kedua, adanya dukungan formal maupun kultural dari pihak universitas terhadap tumbuh suburnya lembaga riset di kalangan mahasiswa.

 

Pada aspek pengabdian masyarakat, Shofwan mengatakan bahwa dukungan terhadap aktivitas kemahasiswaan di UI dirasakan masih kurang. UI kadang-kadang masih melihat kehidupan kemahasiswaan sebagai sesuatu yang terpisah. Padahal, hal ini sangat terkait dengan kualitas softskill, hal yang paling penting dalam era globalisasi ini. Kegiatan kemahasiswaan sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat seringkali dianggap sebelah mata. Untuk itu, harus ada dukungan penuh terhadap program-program yang dilakukan melalui kegiatan kemahasiswaan sebagai komitmen kemanusiaan UI. Selain itu, UI juga harus memiliki visi kemanusiaan dan riset yang berorientasi pada penyelesaian masalah masyarakat, kata Shofwan.

 

Acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UI, Dr. H. Poernomo Prawiro. Beliau memaparkan pandanganya mengenai keinginan UI untuk menuju World Class university. Menurutnya, persaingan kualitas pendidikan saat ini tidak hanya pada tataran dalam negeri saja namun sudah pada tingkat internasional. Tingginya kualitas UI mencerminkan tingginya kualitas SDM yang ada. Poernomo mengatakan bahwa terdapat parameter-parameter yang dapat dipakai sebagai acuan dalam penetapan World Class university. Diantaranya adalah: kualitas pendidiakn mahasiswa; penelitian, pengembangan, dan penyebaran informasi; dan kegiatan yang berkontribusi pada budaya, ilmu pengetahuan serta hubungan masyarakat.

 

Poernomo menjelaskan bahwa dari dunia internasional, ada beberapa parameter yang dapat di gunakan. Diantaranya adalah parameter dari Shanghai University. Sedangkan menurut MWA, parameter yang digunakan antara lain adalah kualitas pendidikan; kualitas mahasiswa, alumni dan staff pengajar serta professional yang bertaraf internasional; serta manajemen pendidikan yang berkualitas serta kemampuan kontribusi kita pada masyarakat.

 

Menurut Poernomo, ada empat bidang utama yang harus difokuskan sekarang. Keempat bidang tersebut adalah kurikulum, sumberdaya, administrasi, serta keuangan. Berdasarkan keempat bidang tersebut, nilai akademik dan kewirausahaan akan lebih dikedepankan.

“Setiap unsur kepemimpinan UI harus satu. Rektor harus sanggup meluangkan waktu dan pikiran untuk UI, berani bertanggung jawab terhadap keputusan-keputusan yang telah diambil, dan sanggup mengayomi segenap jajaran eksekutif di UI”, kata Poernomo.

 

Poernomo menambahkan, langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menyatukan visi di segenap jajaran UI adalah peningkatan pendapatan universitas. Hal ini dapat dilakuakn dengan cara mengaktifkan aset-aset yang dimilik, dan mengedepankan nilai-nilai kewirausahaan. Selanjutnya UI harus bisa hidup berdikari dengan memberikan kesejahteraan pada staff pengajar. Karena salah satu peran besar dari kemajuan UI adalah adanya staff pengajar yang handal.

 

Dari segi kemahasiswaan, UI akan memfokuskan diri untuk merubah pandangan bahwa UI bukan hanya kampus bagi orang kaya dan orang Jakarta. UI ingin menjukkan bahwa seluruh warga Negara Indonesia dan orang tidak mampu pun bisa mengenyam pendidikan di UI. Oleh karena itu, MWA akan membentuk suatu Badan Finansial yang mengelola program beasiswa dan bersifat sektoral. Sehingga fakultas hanya berkonsentrasi pada akademik saja dan bukan pada keuangan, ujar Poernomo.[ ]

 

Kontroversi BHP: Antara Kebutuhan dan Komersialisasi

http://www.engineering-center.net/?q=node/371

 

Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menyelenggarakan diskusi publik dengan tema “Kontroversi BHP: Antara Kebutuhan dan Komersialisasi” yang berlangsung hari Jumat siang (15/12) di Auditorium Djokosoetono Fakultas Hukum UI di kampus Depok.

 

Para pembicara pada diskusi publik itu yaitu Prof. Hikmahanto Juwana, SH, Ph.D (dekan FHUI), Ir.H. Buchori Nasution (pengamat pendidikan) serta Shofwan Al Banna C (Mahasiswa Berprestasi tingkat nasional). Ketiganya menyoroti seputar RUU Badan Hukum Pendidikan (BHP) usulan dari pemerintah (Depdiknas) yang kini tengah dibicarakan di DPR.

 

Shofwan Al Banna melihat permasalahan pendidikan secara global, di mana masalah pendidikan dan kesehatan akan tetap menjadi perhatian utama, yang tidak tertutup kemungkinannya akan masuk “intervensi” dari pihak asing yang merugikan terhadap pendidikan nasional.

 

Sementara Prof. Hikmahanto menilai, dalam BHP masih terdapat banyak celah-celah kelemahan yang mendasar karena konseptornya di depdiknas tidak ada ahli hukum yang handal, serta terkesan ada upaya pemaksaan semua institusi pendidikan harus menerima konsep BHP ini.

 

Sementara Ir. H. Buchori Nasution, mengamati mutu para lulusan semua jenjang pendidikan di Indonesia semakin tinggi semakin mengerucut kecil, karena tidak adanya kejelasan konsep tentang arah pendidikan. Berbeda dengan pendidikan di negara tetangga, Malaysia, yang dulu banyak mendapat bantuan dari para guru Indonesia, kini telah jauh meninggalkan Indonesia.

 

Namanya berita...gak smua gagasan ketangkep. Tapi sebenarnya benang merahnya jelas: World-Class? Ok. Merakyat? Wajib!


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help